Bagi yang menyukai penulisan blog ini, maka saya beritahukan bahwa blog saya akan diarahkan ke http://sdnbbu8.wordpress.com/ Berita dan tulisan semua termuat di blog tersebut, bagi pemilik akun facebook dapat menyukai halaman Membingkai Kata dalam Bahasa.Terima kasih.

Iklan

Lapangan Dr. Murjani zaman dahulu


Ini adalah lagu/MP3 karya teman saya, Exan seorang guru SMPN 5 Banjarbaru. Lagu ini menceritakan tentang keadaan khas Lapangan Dr.Murjani yang menjadi alun-alun Kota Banjarbaru. Lapangan Murjani memiliki daya pikat yang sangat menggoda dari masyarakat Kalimantan Selatan.

Lapangan Dr. Murjani tepat di depan Balai Kota Banjarbaru


Tempat ini sangat terkenal di Kalimantan Selatan, dan berbagai kegiatan anak muda ada di sini, seperti road race (pasar senggol), free style motorcycle, tempat ngabuburit, tempat mangkalnya anak-anak muda dalam kemasan “cafe-cafe” mini yang menjual dagangan ringan seperti pentol goreng, jagung bakar, pisang keju dan lain-lain.
Lagu ini menceritakan keadaan pada Minggu pagi di Lapangan Dr. Murjani, yang sangat ramai akan masyarakat yang berolahraga di sana. Tak lupa pula mengenai keadaan lainnya seperti para pedagang yang sangat ramai dan bervariasi dalam menjual dagangannya, senam pagi bersama-sama.
Jadi bagi anda yang belum pernah ke Lapangan Murjani, datanglah dan anda akan menikmati suasana di sana.
Ini link dari lagu tersebut, selamat mendengarkan…
Download MP3 \" Baisukan Minggu di Murjani\"

Sisa-sisa Idul Fitri 1432 H

Posted: September 2, 2011 in Uncategorized

Hari ini saya jalan-jalan ke tempat nenek saya di kawasan Landasan Ulin, Kota Banjarbaru. Ketika saya memasuki jalan Golf (saya kurang jelas nama jalan tersebut, namun di sana terdapat padang Golf maka orang-orang menyebutnya jalan Golf) Jalan A. Yani km 23,2 Kota Banjarbaru. Sekitar 200 meter saya masuk inilah yang saya lihat.
Sampah di Jalan Golf Landasan Ulin
Ya begitulsh adanya, sekitar 10 meter sampah berhamburan, karena bak sampah tak cukup lagi menampungnya. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh tidak beroperasinya pasukan kebersihan yang biasanya mengangkut sampah karena mereka libur Hari Raya Idul Fitri. Dari hal ini tidak bisa kita saling menyalahkan karena pasukan kebersihan memiliki hak libur terlebih untuk merayakan hari besar keagamaannya. Selain itu kita tidak bisa pula menyalahkan masyarakat yang membuang sampah sembarangan karena bak sampah tersebut memang tidak cukup untuk menampungnya.
Namun dari hal ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa betapa pentingnya pekerja kebersihan atau yang sering disebut dengan pasukan kuning, secara sadar atau tidak kita sadari tanpa mereka hanya beberapa hari saja maka keadaan inilah yang terjadi. Dan hal yang kedua bahwa inilah bukti sifat konsumtif masyarakat dalam merayakan Hari Raya Idul Fitri. Semoga berguna bagi kita semua, Amin.

Tidak Bawa SIM = Tidak Punya SIM?

Posted: September 1, 2011 in Uncategorized

Saya pernah menonton Kabar Petang di TV One yang mengangkat masalah legalisasi ganja. Dari Ketua Tim penuntut legalisasi tersebut mengatakan hal yang mendasar mengenai hukum, yaitu pada intinya seseorang yang menggunakan/ pemakai sebenarnya memiliki hak asasi kebebasan atas apapun yang dimasukkan ke dalam tubunya tanpa ada larangan oleh orang lain, dengan catatan selama tidak mengganggu orang lain. Lalu penalaran saya berkembang kepada dasar/ asal mula hukum ada di sebuah lembaga yaitu keteraturan dan keamanan yang terkait dengan nilai dan norma.
Kemudian pemikiran saya meluas kepada peraturan lalu lintas. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa peraturan kita merupakan warisan dari Belanda yang telah lama menjajah kita sekitar 3,5 abad, namun semua terasa janggal pada kenyataannya(menurut saya pribadi). Pada intinya hukum di adakan untuk mengatur demi kepentingan bersama (baik diri sendiri atau pun bagi orang lain). Ambil contoh pada peraturan lalu lintas, pengendara motor roda dua wajib menggunakan helm yang berstandar SNI demi keselamatan pengendara itu sendiri, maka atas dasar keselamatan pengendara itulah hukum ada bersifat “memaksa” kepada pengendara untuk tertib dalam memakai helm.
Namun, dasar ini tidak berlaku pada peraturan tentang SIM yang mengatur agar setiap pengendara bermotor wajib membawa SIM. Kalau dilihat secara mendalam SIM memang sangat penting karena berpengaruh kepada keselamatan pengendara bermotor dan orang lain. Seseorang yang normalnya memiliki SIM berusia min.17 tahun dan secara fisik dan mental sudah siap diberi kepercayaan untuk mengendarai kendaraan bermotor yang sudah tentu sangat berpengaruh terhadap keselamatan dia sendiri dan orang lain. Hal yang membuat saya merasa “kurang adil” adalah perlakuan yang sama (sanksi) mengenai seseoarang yang membawa SIM dan seseoarang yang tidak memiliki SIM. Seseorang yang tidak membawa SIM (punya SIM) tentu memiliki kemampuan secara fisik dan mental dalam mengendarai motor, namun kesalahannya adalah tidak membawa surat bukti yang menyatakan kesiapannya tersebut. Berbeda dengan seseorang yang tidak memiliki SIM tentu hal ini dipertanyakan, apakah secara fisik atau mental belum sanggup mengendarai motor atau alasan lain misalnya faktor ekonomi (membuat SIM perlu biaya). Nah dari dua gambaran di atas sudah jelas bahwa kedua pengendara ini berbeda, namun memiliki nasib sama (tidak ada SIM di waktu yang sama). Hal ini tentu menjadi sungguh ironi di mana seseorang yang memiliki secara hukum kesiapan berkendara disamakan dengan seseorang yang belum tentu memiliki kesiapan secara hukum untuk berkendara. Dimana keadilan sebenarnya?
Mungkin hukum ini bersifat mutlak, namun secara manusiawi hal ini tidak memiliki toleransi. Manusia “harus” tidak boleh lupa, padahal pada hakekatnya manusia adalah tempatnya lupa, dan tidak ada di dunia ini manusia yang sempurna dan tidak pernah lupa. Keadaan ini mengusik nurani saya yang memandang ketidakadilan dalam perlakuan ini.
Lalu bagaimana solusinya? Tentu ada, alangkah bijaknya jika seseorang yang lupa membawa SIM (memiliki SIM) mendapatkan perlakuan yang berbeda dengan seseorang yang tidak memiliki SIM. Pengendara yang memiliki SIM hendaknya diberikan kesempatan untuk menunjukkan SIMnya dalam jangka waktu 24 jam sehingga menghindari dari pembuatan SIM instan untuk menghindari sanksi yang lebih berat (tidak memiliki SIM). Dan hal ini tentu bersifat manusiawi dan toleran bagi pemilik-pemilik SIM sehingga mereka tidak merasa terabaikan. Tentunya tidak ada manusia yang ingin menghadapi kesulitan, sebatas kemampuan manusia dia akan selalu menghindari kesulitan itu.
Semoga tulisan saya, dapat berguna bagi semua,,,

Takbir berseteru dengan jasad keangkuhan dunia
Melihat dengan berbagai teropong lazuardi malam
Bintang-bintang rahmat hidayah menapak sajadah tasbih
Qur’an dunia termaktub dalam zikir hati
Nafas bertasbih tak henti keluar
mengalir tak sedari menepi
Kacamata Ilahi melihat sifat-Nya

Malam bertakbir di penghujung waktu
mengembara dalam petualangan doa
melepas jaket kelamnya dosa
menelepon Aras boraq syahadat
transfer hati jasad tak berarti
luluh lanta dalam keagungan-Nya

Ya Allah,,,,
Jadikanlah Hamba-Mu ini tawadhu
Tawakal bersamamu,,,selalu
Hingga akhir hayat,,Amin.

Hentakan masa terbuang angan dibaris kepuasan untaian
Nafsu mendera berpijak pada angkara
Lalu yang datang mengelilingi menara takdir
Kubenam pigura rasa untuk pergi
Pergiku membawa daun-daun hati yang kering
Sujud maafku atas berdirinya nafsu kita
Tuhanku di dunia,,,
Genderang alunan martabat mengebiri
Nikmat rasa takdir
Alur qadar hanya dapat ikut
Membuang pakaian-pakaian kerinduan atas kehendak-Nya
Seribu rasa hanya dunia
Melihat ada rasa tiada
Kepada lazuardi malam bintang kemegahan
Teriakan langit membentangkan guntur
Modem kemunafikan membuka jaringan dusta
Hanya jujurnya hati di dalam niat
Aku orang yang dibunuh dosa
Hanya sujud jujurku pada-Mu
Aku tiada, Engkau ada
Ya Allah,,,ampunilah dosaku dan sayangilah kedua orang tuaku,
maafkanlah masa laluku,,Amin.

Menindaklanjuti Infrastruktur Vs safety riding bagian 1 maka untuk berikutnya saya harus membuat sekuel dari judul ini. Melihat realita keadaan jalan yang ada di kawasan Banjarbaru khususnya jalan utama A.Yani, entah kebetulan atau bagaimana, saya melihat terdapat fenomena yang nyata. Apakah itu? coba perhatikan.

Jalan dekat lampu merah di Gt Manggis


Jalan dekat lampu merah di Gt.Manggis


Jalan dekat lampu merah di Simpang 3 Palam


Ya, fenomena kerusakan jalan di setiap persimpangan lampu merah di daerah Banjarbaru (khususnya simpang 3 Palam dan Gt,Manggis).Ada apa dengan semua ini? entahlah,,, tapi sebagai pengguna jalan khususnya roda dua sangat mempengaruhi di dalam keselamatan berkendara. Apabila dihadapkan dengan pemakai jalan roda empat hal paling fatal merusak shockbreker, tapi bila dihadapkan pada pemakai jalan roda dua, maka nyawalah yang menjadi taruhan. Tentunya kita sebagai pengguna jalan hanya berharap yang terbaik demi keselamatan bersama. Entah itu jalan propinsi atau jalan kota, tetapi yang jelas keadaan ini jangan sampai dibiarkan hingga memakan korban. Selain itu penyebab kejadian ini harus diantisipassi sejak awal sehingga kejadian serupa jangan terulang kembali (kenapa jalan sampai rusak?). Akhirnya saya hanya memberi masukan sebagai pengguna jalan/ biker sehingga mohon maaf apabila terdapat kesalahan di dalam penulisan ini.Terima kasih.